Riwayat Terbentuknya Kerajaan Samudra Pasai

Posted: 21/04/2011 in Riwayat

Kedudukan  Geografis daerah Pase adalah dipesisir Utara Daerah Aceh (ujung Utara Pulau Sumatera) dimana pelaut-pelaut Arab sejak abad pertama Hijriah telah melayari daerah ini dengan expedisi dagang menuju Tiongkok. Dalam perjalan itu meraka singgah di pantai daerah ini. Sewaktu singgah didaerah tersebut meraka berusaha untuk mengislamkan penduduknya. Dan seterusnya oleh penduduk yang telah Islam tadi terus menyebarkan kepada penduduk lainnya sehingga jumlah meraka dari hari ke hari terus  bertambah.

Sebelum lahirnya Kerajaan samudera Pase, telah banyak orang asing yang singgah didaerah ini antara lain :

a.       Dalam abad pertama Hijriah (th.632 M) telah datang satu expedisi saudagar Arab menuju ke negeri China (Kanton) dan singgah dipesisir utara daerah Aceh.

b.      Dalam abad pertama Hijriah (th.717 M) satu expedisi dagang bangsa Persia yang dipimpin oleh Zahid dengan 35 buah kapal berlayar menuju Tiongkok dan singgah juga dipesisir Utara Daerah Aceh.

c.       Dalam tahun 724 M berangkat lagi satu expedisi bangsa Persia dan juga menyinggahi tempat tersebut dan rombongan ini dipimpin oleh Abdullah Bin Muhammad.

Sebelum adanya Kerajaan Samudera  Pase, di sekitar  daerah ini telah ada beberapa kerajaan kecil diantaranya kerajaan Syamtalira (Daerah Kecamatan Syamtalira Bayu sekarang), Kerajaan Balik Rimba dengan rajanya bernama Ahmad, Kerajaan Simerlang (Seumarling / Seumali) yang diperintah oleh Raja Muhammad, kerajaan  Rimba Jruen yang diperintah oleh Megat An Nazar (Al-Malikun Nazar ) dan Kerajaan Buloh Tualang yang diperintah oleh Megat Iskandar. Di samping itu terdapat beberapa makam yang terdapat disekitar makam Sultan Malik As Shaleh yang tanggal wafatya sebelum Malikussaleh, seperti :

1.      Tajud Daulah Abdurrhaman Al Fasi meninggal  tahun 610 H.

2.      Naina Hisamuddin bin Naim Muhammad Amin meninggal tahun 622 H.

3.      M.Yacob Perdana Menteri  meninggal tahun 630 H.

Sedangkan Malikussaleh wafat pada tahun (1297) 690 H.

Melihat catatan nama-nama tahun wafatnya di makam-makam tersebut diatas menunjukkan kepada kita bahwa sebelum Malikussaleh di daerah tersebut sudah berkembang Agama Islam.

II.TIMBULNYA KERAJAAN SAMUDERA PASE

Kerajaan Simerlang yang diperintah oleh Ja Seumali yang mempunyai 2 orang anak masing-masing bernama Ahmad dan Muhammad.

Raja Ahmad mempunyai seorang anak angkat bernama Meurah Gajah dan Raja Muhammad mempuyai seorang angkat bernama Puteri Beutong. Setelah keduanya dewasa Muerh Gajah dikawinkan dengan Puteri Beutong dan mendapat dua orang anak yang bernama Meurah Silu dan Meurah Sum.

Akibat meninggalnya Puteri Beutong, timbullah peperangan antara Raja Ahmad dan Muhammad dimana dalam peperangan tersebut, Raja Ahmad, Raja Muhammad dan Murah Gajah gugur. Setelah peristiwa tersebut Meurah Silu dan Meurah Sum meninggalkan kerajaan meraka dan menuju kearah matahari mati (Barat) yaitu Jeumpa (Bireuen) dimana kemudian Meurah Sum menjadi Rajanya, sedangkan Meurah Silu menuju ke Rimba Jruen (Blang Mangat) yang diperintah oleh Muegat An Nazar.

Kerajaan ini kemudian dikalahkan oeh Meurah Silu dan Meugat An Nazar pindah ke Barus (Sumatera Utara) dan menjadi Raja disana. Walaupun kedua kerajaan tersebut letaknya berjauhan, namun kerajaan Barus mengakui dan tunduk kepada Meurah Silu di Aceh. Sampai saat ini masih banyak keturunan orang-orang Aceh dari Pase bertempat tinggal di Barus.

Kemudian Meurah Silu menuju kearah timur laut dari negeri Rimba Jruen, mencari tempat untuk membuat Negeri yang disebut dengan Samudera. Kota tersebut didirikan diatas tanah tinggi yang menyerupai bukit kecil (Cot Astana) sehingga tatkala rombongan Syech Ismail utusan Syarif Mekkah datang ketempat itu terlihat rumah itu sangat tinggi letaknya maka diantara rombongan tersebut ada yang menyebur “Samud dar” artinya rumah pencakar langit yang kemudian disebut “Samudera”, kunjungan Syech Ismail ke negeri ini (Negeri dibawah angin) untuk mengislamkan penduduk tempat itu, tetapi ia berjumpa dengan Meurah Silu diketahui bahwa ia telah terlebih dahulu Islam dan telah membaca Al-Qur’an serta telah berlaku Hukum-hukum Islam di Negeri  Samudera.

Meurah Silu sangat taat menjalankan Agama Islam sehingga ia digelar dengan “Malikussaleh” yang memerintah (1270-1279 M). Penduduk  yang tidak mau memeluk agama Islam pindah ketanah Gayo (Lingga) dan ke negeri Batak. Atas usaha Menterinya Ali Ghiyatsuddin, Malikussaleh kawin dengan seorang Puteri dari Kerajaan Perlak yang bernama Puteri Gangsa Sari. Dari perkawinannya lahir seorang putera yang bernama Muhammad dengan gelar Malikuzzahir yang diangkat menjadi Raja Samudera mulai 1297 sampai dengan 1326 M.

Dalam masa pemerintahan Malikussaleh, Markopolo mengunjungi Kerajaan Pase tahun 192 dan menjadi tamu selama lima bulan. Kemudian berangkat ke Lamuri, Fansur (Barus) terus mengarungi Samudera Indonesia, singgah di Andaman dan Nikobar serta kemudian terus kembali ke negerinya. Dalam catatan Markopolo dituliskan bahwa kota Perlak saja rakyatnya yang memeluk agama Islam sedangkan ditempat lainnya masih menganut faham Anismisme..

Ini bertentangan dengan sebenarnya karena Malikussaleh dengan rakyatnya di Kerajaan Pase waktu itu sudah semuanya memeluk Islam.

Pada zaman Kerajaan Malikussaleh, Kerajaan Smudera pase sudah mulai memakai mata uang emas (dirham) yag sampai sekarang masih sering ditemukan oleh penduduk. Malikussaleh menjadi Raja dikerajaan baru yaitu Kerajaan Pase.

Mengenai nama Samudera Pase sering disebutkan Pase menjadi Samudera dan Samudera menjadi Pase. Hal ini adalah disebabkan letak Pase dan Samudera berdekatan sekali dan dibangun oleh seorang Raja yaitu Sultan Malikussaleh sendiri. Kemudian kedua kerajaan itu disatukan dan diperintahkan oleh seorang raja.

Setelah Sultan Muhammad dengan Gelar Malikuzzahir, wafat, di gantikan oleh anaknya SultanAhmad, dengan gelar Malikuzzahir juga. Dalam masa pemerintahanya datanglah seorang pengembara bangsa Maghribi Ibnu Batutah pada tahu 1345M. Ibnu Batutah lama tinggal di Delhi menjadi Guru besar dan merangkap Pembesar Kerajaan. Beliau pernah berjumpa dengan seorang Duta Kerajaan Pase di Delhi yang bernama Zulsyah. Kemudian oleh Sultan Akbar Delhi, Ibnu Batutah di utus ke Tiongkok, singgah di Sailan (Seurindib) dan Pase dan begitu pula sekembali dari Tiongkok singgah lagi di Pase. Ibnu Batutah menyaksikan kerajaan Pase telah mempunyai pemerintahan yang teratur lengkap dengan wazir-wazirnya dan wazir besarnya (Perdana Menteri) seperti susunan pemeritahan di Tanah Arab. Pada waktu telah dibangun Perguruan Tinggi di Ibu Kota Negara dan mendatangkan Guru Besarnya dari Persia yang bernama Amir Said Asy Syirazi dan Said Syarif Tajuddin Al Azfahami dan keduamya merangkap juga sebagai pembesar Negera. Sultan tiap hari jum’at menaggalkan pakaian Kerajaan dan mengadakan diskusi dengan Ulama lainnya. Pada waktu diskusi inilah Sultan menerima kunjungan Ibnu Batutah. Pada masa ini Kerajaan Pase sudah mengirim mubalighnya ke luar daerah untuk menyiarkan Islam seperti ke Aru, Kampar dan Rokan.

III.Kerajaan Samudera Pase sebagai Pusat Pengembangan / Penyiaran Islam ke seluruh Nusantara dan Asia Tenggara.

Sebagai diketahui bahwa mubaligh Islam dari Pase telah menyiarkan Islam ke Aru, Kampar, Rokan dan Inderagiri. Pada masa Pemerintahan Sultan Zainal Abidin yang memerintah tahun 1383 – 1406, Kerajaan Pase telah mengadakan hubungan dengan Kerajaan Tiongkok dimasa pemerintahan Kaiser Yung Lo dari Dinasti “Ming” yang memerintah tahun 1403-1424.

Pada tahun 1413 Laksamana Ceng Ho dan 2 orang sekretarisnya yang beragama Islam yaitu Ma Hoan dan Tai Hsin singgah di Aru dan Lamuri dalam perjalanannya ke Pase dan di dapatinya pada kedua daerh tersebut telah menganut  Islam.

Kemudiannya pada tahun 1428 Laksaman Cina Fa Hien dalam perjalanannya ke Pase singgah di Inderagiri, Rokan, Kampar dan dan didapatinya semua daerah tersebut sudah menganut Islam.

Pada masa Sultan Zainal Abidin Kerajaan Pase telah mengirim Mubaligh Sidi Abdul Aziz ke Negeri Melaka sehingga Rajanya memeluk islam dan ditukarkan namanya menjadi Muhammad Syah dan anaknya yang bernama Iskandarsyah kawin dengan Putri Sultan Zainal Abidin dari Pase.

Kemudian mubaligh-mubaligh Islam Pase ini menuju ke Keudah dan menguasainya sehingga Raja Pra Ong Maha Wangsa memeluk agama Islam dan diganti namanya dengan Muzlafazsyah. Di antara mubaligh Islam yang dikirim ke Keudah ialah Syeh Abdullah Yamani Guru Besar pada Perguruan Tinggi di Pase, teman dari Syeh Nuruddin Makki. Nuruddin Makki mengirimkan kitab-kitab agama dari Pase kepada Syeh Abdullah Yamana, guna dipakai di Keudah. Sesudah di Keudah, mubaligh ini terus menuju Patani, sehingga sampai sekarang sebuah kampung yang bernama Pase masih ada di Patani.

Di Menje Tujoh Kecamatan Matang Kuli terdapat satu Makam Tulisan Jawa Kuno dari Arab. Tulisan di Makam tersebut berbentuk syair sebagi doa untuk Raja Pase yang meninggal 14 Zulhijjah 781 H( 1389 M). Menurut Prof.C.Hooykas, syair tersebut masuk syair tertua seperti juga Syair Putri Hijau. Diantara bunyi syair tersebut adalah :

“GUTRA BARU MPU KEUDAH PASE MA”

artinya : “PUTRI INI DARI KETURUNAN BARU BASA YANG MEMERINTAH KEUDAH DAN PASE”.

Pada waktu Kerajaan Mojopahit dan dibawa ke Jawa dan dibenarkan untuk menyiarkan agama Islam. Pada waktu Sultan Zainal Abidin dikirimkanlah sebuah Team Dakwah ke Tanah Jawa yang terdiri anatara lain : Maulana Ishak, Maulana Malik Ibrahim, Ibrahim Asmoro, Abdullah dan lain-lain.

Maulana Ishak yang disebut dengan Syeh Awalul Islam bersama Maulana Malik ibrahim menetap dengan Syeh Awalul Islam di Loren (Gersik) Jawa Timur, anak dari Maulana Ishak kemudian menjadi Sunan Ngampel sedangkan mubaligh Abdullah mendirikan Pesantren di Gersik, dan Ngampel. Dari sini pula mereka mengislamkan pelaut-pelaut dari Sulawesi.

Pada waktu Pase diserang Portugis tahun 1521, Syarif Hidayatullah (Anak dari Ketua Mahkamah Agung Pase) yang baru pulang memperdalam ilmu agama dari Mekkah tidak jadi singgah di Pase dan melanjutkan perjalanan ke Jawa.

Setibanya di Jawa ia dikawinkan dengan Putri Sultan Trengano dan di angkat menjadi Panglima Perang. Beliau ke kota Jayakarta (Fathulmubin). Kemudian beliau menjadi Gubernur Jayakarta dan setelah itu menjadi Sultan Banten yang disebut juga Sunan Gunung Jati atau Fatahillah / Fatatehan yang lahir di Basem (Basma) Pase pada tahun 1490 M.

Mubaligh Islam lain dari Pase yang bernama Syarif  Kasim Al Makhudum dan Syarif Abubakar menuju dan menyiarkan agama Islam ke Sulu dan Mindano pada tahun 1390, kemudian ke Manila dan kemudian beliau kawin disana dengan Putri Raja Pulau itu. Sewaktu Spanyol mendarat di Manila meraka telah mendapati sebuah kerajaan Islam disana yang dipimpin oleh Syarif Sulaiman.

Dan mubaligh –mubaligh keturunan Syarif Abubakar yang siantaranya Syeh Mansur berangkat menuju dam menyiarkan Islam di Tidore sehingga Rajanya yang bernama Cirali Lijitu memeluk Islam dan ditukar namanya menjadi Sultan Jamaluddin, sedangkan anaknya diberi nama dengan sebutan Raja Mansur.

Setelah itu dari Tidore agama Islam disiarkan ke Ternate, Jailolo dan Bacan. Dalam tahun 1521 telah terdapat 4 (empat) kesultanan di daerah ini yaitu :

Ternate, Jailolo, Tidore dan Bacan. Sultan Bacan pertama yang menganut Islam diberi nama Sultan Zainal Abiddin dan sari sisi mereka meyiarkan Islam ke Pulau Misool, Salawati, Wigo dan Irian.

IV.Hubungan Kerajaan Samudera Pase dengan Negara Luar.

Pada masa Sultan Ahmad Al Malikuzzahir tahun 1345-1389 Kerajaan Pase telah mengadakan hubungan diplomatic dengan Kerajaan Hindustan di Delhi, dan kemudian Sultan ini mengirim utusannya Ibnu Batutah ke Tiongkok. Dalam perjalanan ke Tiongkok dan sewaktu kembali dari Tiongkok Ibnu Batutah singgah di Kerajaan Pase.

Pada masa Sultan Z.Abiddin Al-Malikuzzahir memerintah tahun 1983-1406 Kerajaan Pase mengadakan hubungan diplomatik dengan Tiongkok, dan Sultan mengirim adiknya sendiri menjadi duta Tiongkok dan meninggal  disana (Kota Nangking) sehingga kuburannya dijaga dan dihormati oleh Kaisar Tiongkok. Kemudian pada tahun 1413 Laksamana Cina Ceng Ho dengan orang 2 orang sekretarisnya yang bernama Ma Ho-an dan Tai Hsin mengunjungi Pase dan menghadiahkan sebuah lonceng Cakradonya kepada Sultan Pase, setelah Pase digabungkan dengan Kerajaan Aceh Darussalam oleh Sultan Ali Mughayatsyah, lonceng dibawa ke Banda Aceh, dan sampai sekarang masih ada di Meusium Aceh.

V.Penutup

Agama islam telah masuk ke pesisir Utara Aceh ini Abad I Hijriah, fakta-fakta untuk menetapkan dimana tempat masuknya Agama Islam yang pertama itu masih memerlukan penelitian.

Yang sangat penting untuk diadakan penelitian ialah kesatu komplek Makam di Desa Samuti, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Aceh Utara. Komplek Makam ini ± 20 M2 dan banyak batu Nisan bertulisan Arab nampaknya bentuk-bentuk tulisan tersebut lebih tua dari tulisan yang terdapat di Samudera Pase.

Bukan tidak mungkin didaerah Samuti ini, sudah pernah berdiriya sebuah Kerajaan Islam. Barangkali inilah Kerajaan Islam yang pertama, lokasinya di Kecamtan Gandapura, disusul oleh Kerajaan Syamtalira yang berlokasi di Kecamatan Syamtalira Bayu. Kemudian didirikan Kerajaan Samudera yang pusatnya di Kecamatan Samudera sekarang. Sesudah itu didirikan Kerajaan Pase. Kerajaan Samudera dengan Pase kemudian disatukan dibawah perintah seorang Sultan sampai menjadi Negara besar yang mencakup bekas Kerajaan-kerajaan Samuti, Syamtalira, Peureulak dan Benua. Bahkan wilayahnya ketimur sampai ke Kuala Simpang dan ke Barat sampai ke Paru / Pante Raja, meliputi Kabupaten Aceh Utara, Aceh Timur dan sebahagian Kabupaten Pidie.

Kerajaan Samudera Pase ini pernah mengadakan hubungan diplomatik dengan Kerajaan Hisdustan di Delhi dan Kaisar Tiongkok di Kanton. Kerajaan Samudera Pase pernah menjadi pusat pendidikan Islam dengan membangun Perguruan Tinggi Islam, yang maha guru ada yang dari Arab dan Persia dan mahasiswanya dari seluruh pelosok Nusantara dan Malaysia. Kerajaan Samudera Pase menjadi pusat pengembangan agama Islam dari Samudera Pase mubaligh-mubaligh islam telah meandakwahkan agama ini ke seluruh Nusantara, mulai Pidie, Lamuri Daya dan pesisir Barat pulau Sumatera hingga Karo, Aru, Rokan, Kampar, Inderagiri, Palembang, Jawa Tengah, Jawa Barat, Gersik di Jawa Timur terus ke Bugis (Sulawesi).

Bahkan juga ke Asia Tenggara, Melaka, Kedah, Patani, Sukadana, Brunai, Sulu, Mindano,Philipina, termasuk negara-negara Thailand, Malaysia dan Philipina.

Dari Suka Dana ke Kalimantan dan dari Sulu ke Tidore, Ternate, Jailolo, Bacan, pulau-pulau sekeliling ujung barat Pulau Irian. Demikianlah selayang pandang sejarah masuk dan berkembangnya Islam di wilayah Kerajaan Samudera Pase ini, mudah-mudahan kertas kerja ini dapat menjadi bahan pembahasan dan diskusi serta mohon pertimbangan untuk menetukankan daerah mana yang mula masuknya agama Islam.

Sedangkan pusat pengembangan agama islam, sudah dapat dipastikan adalah kerajaan Samudera Pase.

Selanjutnya fakta-fakta sejarahlah  yang dapat menetukan kepastiannya dan fakta-fakta sejarah yang merupakan tulisan pada batu-batu nisan yang terbanyak terdapat dibekas Kerajaan Samudera Pase, bahkan ratusan jumlahnya. Kita mengharapkan agar para ahli bidang ini akan dapat mengadakan penelitian selanjutnya.

Lhokseumawe, 17 September 1980

DAFTAR BACAAN

1.      Prof . Ali Hasymi, “ Meurah Johan Sultan Aceh Pertama”

2.      Prof. Ismail Yacob MA SH. “Tarich Islam”

3.      A.S.Harahap, “Sejarah Penyiaran Islam di Asia”

4.      H.M.Said, “Aceh Sepanjang Abad”

5.      T.Ibrahim Alfian, “Kronika Pase”

6.      Tun Sri Anang, “Hikayat Raja Raja Melayu”

7.      T.Ibahim Alfian, “Mata uang Emas Kerajaan Aceh”

8.      Tgk.Abdullah Syafi’I, “Catatan catatan”

9.      H.Zainuddin, “Tarikh Aceh dan Nusantara”

Komentar
  1. Andi Srak mengatakan:

    sangat luar biasa kegemilangan masa lalu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s