Bahasa Melayu Pasai, Cikal Bakal Bahasa Indonesia

Posted: 23/04/2011 in Essai

Bahasa Melayu Pasai, Cikal Bakal Bahasa Indonesia

Banyak hal yang perlu dicatat dari pertemuan para penulis “Buku-buku sejarah Aceh” di Meuligoe Aceh pada hari Ahad 8 Oktober 2006. Pada kesempatan ini, saya hanya membahas dua catatan penting saja !.

Pertama, ketika memberi masukan bagi salah satu buku yang berjudul “Aceh Daerah Modal”,Pejabat Gubernur Aceh Mustafa Abubakar mengatakan,bahwa sumbangan Aceh sangat besar dalam pembentukan bahasa Indonesia. Bahasa Melayu Pasai merupakan benih unggul yang menjadi cikal-bakal bahasa Indonesia.

Kedua, setelah jeda untuk shalat zuhur, Pejabat Gubernur Aceh ini sekali lagi melontarkan “Fakta budaya Aceh” yang selama ini terlupakan. Bahwa daerah Aceh yang amat kaya dengan materi/bahan penulisan; tetapi sangat sedikit yang telah dituliskan, sedangkan daerah lain (di luar Aceh) yang hanya memiliki secuil bahan/materi tulisan, namun mereka telah menulis begitu banyak.

Sebagai peminat budaya, saya membenarkan kedua pernyataan Gubernur Aceh itu ! Hanya karena jarang dipublikasikan dalam media massa populer seperti koran dan televisi, menyebabkan fakta sejarah Aceh  tenggelam atau dianggap seolah tak pernah ada.

Secara umum, sampai hari ini asal-usul bahasa Indonesia dianggap berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Melayu yang menjadi sumbernya adalah bahasa Melayu yang dikembangkan oleh Balai Pustaka yang kebanyakan pengarangnya berasal dari Minangkabau/Padang, Sumatera Barat. Namun, sekitar 30 tahun lalu, UU. Hamidy bersama beberapa intelektual daerah Riau lainnya, mulai coba menggoyang pandangan/pendapat tentang asal-mula bahasa Indonesia itu. Para pengarang Riau ini mengatakan, bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau. Sebagai alasan, mereka menampilkan beberapa pengarang Riau abad ke 19, diantara yang paling banyak karyanya adalah Raja Ali Haji-penulis Gurindam Dua Belas.

Perjuangan untuk memenangkan “Bahasa Melayu Riau sebagai cikal-bakal bahasa Indonesia”, terus-menerus dilakukan UU. Hamidy dan kawan-kawannya hingga hari ini. Berbagai kesempatan dan forum digunakan untuk tujuan itu, baik di tingkat lokal, nasional, regeonal di negara-negara berbudaya Melayu seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura dan Internasional. Dapat ditambahkan, bahwa Drs. U. Hamidy, MA selain sebagai pakar budaya Melayu Riau, juga ahli mengenal sastra Aceh. Tahun 1974 beliau melakukan penelitian sastra Aceh di Aceh, dan telah ditertibkan dalam beberapa buku dan majalah seperti Segi-segi Sosial Budaya Masyarakat Aceh, dalam  Antologi Seulawah dan majalah  Budaya Jaya.

Kalau UU. Hamidy, dkk, hanya “bermodalkan” Raja Ali Haji dengan periode waktu abad ke 19, berani menyatakan bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau, mengapa Aceh yang memiliki fakta sejarah lebih tua dan amat banyak ; tidak tertarik sama sekali tentang hal itu ! (?). Apa, karena orang Aceh lebih cenderung ke ekonomi / bisnis di banding budaya?  Boleh juga, tapi mengapa yang konglomerat jarang pula orang Aceh!!??. Kita masih sangat tergantung pada Sumatera Utara dalam hal sembako, padahal dua orang Gubernur Aceh pernah berasal dari ekonom!. Berarti Aceh tak berhasil di segala bidang (ab han, toet tan!).

Dibandingkan Riau, daerah Aceh memiliki bukti yang melimpah tentang asal-usul bahasa Indonesia. Paling kurang, bisa dimulai dari Kerajaan Samudra Pasai abad ke 13 dengan bahasa resminya bahasa Melayu Pasai. Mengenai  Bahasa Melayu Pasai ini antara lain dapat kita baca dalam Hikayat Raja-raja Pasai. Kemudian, pada masa kerajaan Aceh Darussalam abad ke 16, bahasa Melayu Pasai juga dipakai sebagai bahasa resmi kerajaan. Hal ini terbukti dari kata pengantar Kitab Mikratut Thullab karya Syekh Abdurrauf Syiah Kuala, yang menyebutkan, bahwa beliau merasa sukar mengarang dalam bahasa Melayu Pasai, karena lama merantau ke negeri-negeri Arab. Sejak abad ke 16 s/d 19 berpuluh-puluh ulama Aceh seperti Hamzah Fansury, Syamsuddin Sumatra-i/ny, Nuruddin Arraniry, Abdurrauf As-Singkily dan lain-lain, telah mengarang berpuluh-puluh kitab dalam bahasa Melayu Pasai. Kitab-kitab itu, kemudian disalin dan beredar ke seluruh negeri-negeri di Nusantara – Asi Tenggara. Sampai hari ini, sebagian kitab-kitab itu masih dipelajari di berbagai tempat di negara-negara wilayah Asi Tenggara. Bersamaan beredarnya karya-karya ulama Aceh itu, berkembang pula bahasa Melayu Pasai ke seluruh Nusantara. Bagi wilayah yang  sekarang bernama negara Indonesia; bahasa Melayu Pasai setelah berproses selama berabad-abad; selanjutnya diakui sebagai bahasa nasional Indonesia.

Apa yang saya ungkapkan, memang telah ditulis dalam beberapa buku. Sayangnya, buku-buku tersebut kurang merata beredar secara nasional. Akibatnya, prihal sumbangan Aceh terhadap pertumbuhan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia amat minim diketahui rakyat Indonesia. Akibatnya, kerbau punya susu, tapi lembu punya nama !!!.

T.A. Sakti

19 Oktober 2006 pukul 23.21 Wib.

Catatan: Hari ini Rabu, poh 6 seupot tgl 18 Oktober 2006, bertepatan 25 Ramadhan 1427, saya mulai menulis tentang asal-usul bahasa Indonesia. Saya berhenti menulis sementara, karena buka puasa dan baru dilanjutkan sampai selesai setelah azan ‘Isya.

Pada 25 Ramadhan tahun 1427 H ini adalah ulang tahun ke 22 ulon dipokle moto di Kalasan, Yogyakarta sewaktu pulang dari tugas KKN-UGM di desa Guli, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Saat ditabrak sekitar jam 13 siang adalah tanggal 25 Ramadhan 1405 H bertepatan tanggal 15 Juni 1985 M. Alhamdulillah, ulon mantong neubri umu le Allah Ta’ala, hingga mantong meuteumeung buka  puasa ngon boh meuc’ot/boh rom-rom/BRR lagee seupot nyoe, meutamah lom ngon ie teubee!. (catatan ini dibuat pada 19 Oktober 2006 malam setelah azan ‘Isya!).

Mudah-mudahan dengan ultah kee 22 tahun ini, rahmat dan karonya Allah SWT semakin besar-banyak dicucurkan kepada saya, istri, anak-anak, keluarga dan bagi segenap kaum muslimin-muslimat; Amiiin!!!.

Pencatat:

T. A. Sakti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s