Etika Memilih Pemimpin ala Ciceem (Telaah Hikayat Aneuk Jampok)

Posted: 03/08/2011 in Hikayat

Oleh:Zulfadli Kawom

 

Nabi Sulaiman berkuasa penuh atas kerajaan Bani Isra’il yang makin meluas dan melebar, Allah telah menundukkan baginya makhluk-makhluk lain, yaitu jin, angin dan burung-burung yang kesemuanya berada di bawah perintahnya melakukan apa yang dikehendakinya dan melaksanakan segala perintahya. Di samping itu Allah memberinya pula suatu kurnia berupa mengalirnya cairan tembaga dari bawah tanah untuk dimanfaatkannya bagi karya pembangunan gedung-gedung, perbuatan piring-piring sebesar kolam air, periuk-periuk yang tetap berada diatas tungku yang dikerjakan oleh pasukan Jin-Nya.

Sebagai salah satu mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada Sulaiman ialah kesanggupan beliau menangkap maksud yang terkandung dalam suara binatang-binatang dan sebaliknya binatang-binatang dapat pula mengerti apa yang ia perintahkan dan ucapkan.
Demikianlah maka tatkala Nabi Sulaiman berpergian dalam rombongan kafilah yang besar terdiri dari manusia, jin dan binatang-binatang lain, menuju ke sebuah tempat bernama Asgalan ia melalui sebuah lembah yang disebut lembah semut. Disitu ia mendengar seekor semut berkata kepada kawan-kawannya: “Hai semut-semut, masuklah kamu semuanya ke dalam sarangmu, agar supaya kamu selamat dan tidak menjadi binasa diinjak oleh Sulaiman dan tenteranya tanpa ia sadar dan sengaja”.

Nabi Sulaiman tersenyum tertawa mendengar suara semut yang ketakutan itu. Ia memberitahu hal itu kepada para pengikutnya seraya bersyukur kepada Allah atas kurnia-Nya yang menjadikan ia dapat mendengar serta menangkap maksud yang terkandung dalam suara semut itu. Ia merasa takjub bahwa binatang pun mengerti bahwa nabi-nabi Allah tidak akan mengganggu sesuatu makhluk dengan sengaja dan dalam keadaan sadar.

Dalam sebuah Hikayat Aceh yang berujudul “Aneuk Jampok” kita bisa menemukan Riwayat Nabi Sulaiman yang perjalanannya yang dibawa angin seperti dalam cuplikan berikut:

Nibak Siuroe Nabi Jak Meu en

Ka dengon angen jak keulileng donya.

Lalu kemudian Nabi Sulaiman memanggil semua burung.

Sulaiman neuheuy sigala ciceem

Toeh siri kateem lon bouh keu raja.

 

Tiba-tiba tanpa ada yang menyuruh hana kom hana salam langsung saja Jampok (Burung Hantu), menyodorkan anaknya agar diangkat menjadi Raja oleh Nabi Sulaiman seperti berikut:

Seuot Po Jampok Hai Teungku Ampon

Nyoepat Sigam long neuboh keuraja

Seubab Sigam long rupa that ceudah

Lagi ngen hebat ngen bulee mata

Mata jih bulat babah meukuweit

Cukop meusaheet Sigam keuraja

 

Begitu Jampok meyakinkan Nabi Sulaiman  dengan sikap pujoe droe (memuji diri sendiri) tanpa malu, sementara beberapa burung lain hanya bisa terdiam dan belum mengeluarkan pendapat mereka.

Tiba-tiba Seekor Beurujuk Balee bersuara lantang dan menolak mentah-mentah Sodoran calon dari  Sang Jampok yang tidak tahu malu itu.

 

Teuma Ji seuout Beurujuk Balee

Han kuteem dikee jampouk keu raja

Hana meusoe-soe ka tajak lakee

Golom meuteuntee tajak peutaba

 

Kemudian Tok-tok Beuragoe juga dengan dengan tegas dan menolak mentah-mentah ajakan Jampok dan dengan sangat arif dan sangat rendah diri.

Lheuh nyan Ji seuout Tok-tok beuragoe

Hana meusoe-soe taboh keu Raja

 

Tok-tok Beuraghoe ,walaupun dirinya memenuhi syarat dengan sangat santun mengatakan bahwa dirinya walau punya kekuatan namun tidak pernah dan berani meminta agar dirinya ditunjuk menjadi Raja.

Seudangkan dilon Keupiah Beusoe

Hantom siuroe lakee keu Raja.

Begitu ungkap Tok-tok Beuragoe dengan tegas

Ciceem Tiong yang sedari tadi menyimak pembicaraan hanya bisa grop-grop lambong (meloncat-loncat kegirangan) sembil bertepuk dada pertanda bercanda. Berujok Balee hanya bersorak-sorak saja disamping Tiong sambil mengejek Jampok, sementara Ciceem Peureuleeng usil mematuk mata Aneuk Jampok, karena dinilai Jampok teralulu percaya diri, memuji anaknya sendiri dengan mengatakan bahwa, matanya lebih indah disbanding burung lain, padahal matanya cukup mengerikan

Lalu pertemuan burung itu berubah menjadi kirouh (ribut), kemudian Nabi Sulaiman mendamaikan kembali sambil tersenyum ramah, Jampok tersipu malu karena  usulannya ditolak langsung oleh beberapa burung lainnya.

Ciceem Kakirouh Nyangna Di sinan

Nabi Sulaiman teukheem lagoyna

Po Jampok yoh nyan kamalee muk

kaleupah haba nariet jipeugah

 

Ditengah keributan tersebut tiba-tiba Burong Keutok-tok yang dikenal sebagai Seniman atau Musisi yang sering menggelar pertunjukan (Konser Geundeurang) dimalam hari juga mengusung dirinya sendiri untuk di angakat menjadi pemimpin

Teuma Jiseuout Buroung Keutok-tok

Meuhanjeut Jampouk bah long keu raja

Seuabab di ulon na meupiyasan

Long peeh geundrang oh malam jula

 

Usulan Buroung Keu Touk-touk rupanya langsung mendapat dukungan dari Ciceem Eunggang

Laju jiseuout si ciceem Enggang

Leupah that garang meunyoe jih Keu Raja

Ampon Tuanku Saidil Ambiya

Galak Long raya gobnyan Keu raja

 

Saweub digobnyan leuthat piyasan

Geupeeh ngen geundrang oh malam jula

Ngon Ciceem Got-got Geumeu en Geudrang

Leupah that garang karu ngen subra

 

Ciceem Keudidi yang dari tadi hanya diam dan menyimak semua pendapat burung-burung lainnya lalu memberi pendapat dan pandangannya, sementara seluruh burung-burung yang dari tadi sudah mengeluarkan pendapat hanya diam mendengar Keudidi sebagai rakyat kecil yang dikenal diam dan sangat jarang berbicara, suasana menjadi hening sebentar.

Teuma jidamee uleh Keudidi

Si Rajawali tabouh keu raja

Ciceem dama Peudana Meuntri

Beurujuk Campli Keupala Teuntra

 

Leuk Bangguna taboh keu meuntri

Keupala negeri nyoe Ciceem Dama

Kleung Puteeh Ulee keupala Peulisi

Si Mirah pati jeut keu wedana

 

Keu Peuneurangan po ciceem Tiong

Nyang Mat Hukom Po Ciceem Pala

Tok-Tok Beuragoe Keu Geuchiek gampong

Ciceem keucuboung keu ureung Ronda

 

Cicem bubruk keuma bidan

Seubab gobnyan geukuwa-kuwa

Dum ciceem laen duk keu rakyat

 

Begitu Keudidi mengatur satu persatu sesuai dengan kriteria dan keahlian masing-masing. Disini jelas nampak pendapat Ciceem Keudidi sangat rasioanal dan bisa diterima oleh burung lainya, jelas penempatan sesuai dengan kemampuan dan keahliannya, the right man and the right place sangat dipahami betul oleh Keudidi.

Menjelang PILKDASUNG Aceh Partai-partai politik dan Jalur Independen mengusung Calon Bupati dan Gubernur, masing-masing saling mengunggulkan calon Bupati dan Gubernur andalannya, bahkan persaingan tidak sehat bisa saja terjadi didalam dan diluar Partai, didalam partai sendiri juga harus bersaing untuk menduduki kursi kekuasaan.

Tidak adanya Plat Form dan  Criteria serta syarat baku sering menjadi komplik interen, dan dalam sebuah komunitas dalam menentukan calon mereka. Apa salahnya kita belajar memilih dan menentukan sikap seperti dalam ajang pemilihan Raja Ciceem dalam Hikyat Aneuk Jampouk diatas, bagaimana bersikap arif, lapang dada menerima calon yang memang patut dan pantas serta rasional dan dapat diterima oleh semua pihak seperti akal rasional Keudidi, walau rakyat kecil diantara kawanan burung lainnya, pendapatnya dapat diterima dan rasional (itamoeng akay) serta memberi win-win solution dalam sebuah kemelut.

Sementara Nabi Sulaiman yang Po Keurajeun Masa itu hanya memediasi pemilihan Raja Ciceem, tanpa memihak serta menunjukkan langsung siapa pemimpin burung, namun burung sendirilah yang diberi hak mee um (otonom) dalam memilih pemimpin mereka, karena toh akhirnya mereka juga yang akan merasakan dampak langsung dari pilihannya.

Dari Hikayat tersebut paling tidak bisa mengambil contoh yang baik dalam berdemokrasi memilih pemimpin ala Ciceem dalam kehidupan kita, terutama kepatutan dan kepantasan menurut kadar dan kemampuan masing-masing, sehingga komplik dalam memilih pemimpin bisa diredam.

Bagi orang Aceh, kata “jampok”  amat populer dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang memuji diri baik benar adanya atau tidak, maka orang tersebut akan dipanggil Jampok, kalau ada yang memuji dirinya sendiri langsung dikatakan”Lagee Jampouk kapeugot droekeuh”. Semoga Calon pemimpin kita tidak ada yang meupeuranguy lagee Jampok.Pheuh Souh Keudeih

Penulis, Aktif di Balai  Sastra Samudra Pasai- Aceh Utara

Sudah pernah dimuat di Serambi Indonesia

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s