Meugang, Tradisi yang tidak bisa di lupakan

Posted: 03/08/2011 in Essai

Oleh: Zulfadli Kawom

“Jak barangkahoe jeut, makmeugang woe”

Begitu wasit (pesan) pendek orang tua di saat anaknya akan ke perantauan. Kalimatnya memang pendek,namun sangat mudah di ingat, apalagi menjelang puasa. Tentu kita diperantaun sangat sedih apabila tidak bisa menikmati Sie Meugang geutangun le mak bersama keluarga Meugang atau “Makmeugang” adalah tradisi rakyat Aceh menyambut Ramadhan dengan menyembelih lembu atau kerbau.

Tradisi meugang sudah ada sejak Sultan Aceh, sekitar tahun 1.400 Masehi. Tradisi makan daging menjelang puasa, Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Haji sudah mendarah daging di seluruh Aceh. Bahkan jika tidak ada uang, warga atau instansi tertentu bergotong royong mengumpulkan uang (meuripouh) untuk membeli seekor sapi atau kerbau.

Tentu saja ini lebih murah daripada membeli di pasar daging. Lazimnya, janda miskin, panti asuhan, orang miskin, para dermawan, memberikan sumbangan. Intinya, selama dua hari meugang, dapur menyebarkan aroma daging. Berarti semiskin-miskin orang Aceh, paling kurang setahun tiga kali makan daging pada hari Meugang. Dahulu dimasa Kesultanan Aceh. Meugang di adakan di setiap negeri dibawah ulee balang, mukim dan gampong, dimana para pembesar dan orang kaya negeri menyembelih sapi atau kerbau untuk dibagikan kepada rakyatnya. Misalnya meugang digampong ulee leumoe teutap jok keu Geusyik (Kepala sapi menjadi hak petua gampong atau geucheik). Hal ini merupakan salah satu cara memberikan sedekah dan membagi kenikmatan kepada masyarakat dari kalangan yang tidak mampu.

Setiap meugang tiba maka banyak orang menyembelih sapi atau kerbau untuk dijual. Karena permintaan cukup banyak, harga daging pada saat meungang biasanya sangat melambung tinggi bahakan ada argumen bahwa daging sapai di aceh termahal didunia, padahal kita tidak bisa taboh yum (menghargai) secara ekonomis saja persoalan yum si (harga daging) uroe meugang, Kita sebenarnya sedang membeli harga budaya.

Banyaknya Iklan di Koran-koran yang menawarkan harga daging sapi murah yang di impor dari Selandia Baru dan Australia belum juga bisa menekan harga sapi aceh (local) yang mempunyai citarasa yang mungkin tidak di tandingi oleh sapi yang dipelihara secara intensif dan moderndari Negara manapun. Berkaitan dengan ini, ada pemandangan yang unik hampir seluruh pelosok Aceh, yaitu munculnya tempat-tempat penjualan daging yang berderet memanjang.yang menawarkan berbagai harga, dari asoe, ulee sampee tuleung (daging dan tulang).

Pada Uroe Meugang ini biasanya seluruh keluarga berkumpul untuk makan bersama dengan menu spesial masakan daging. Karenanya ada juga yang menyebut uroe meugang dengan sebutan uroe pajoh-pajoh (makan). Sehingga dapat dipastikan, pada uroe meugang setiap rumah di Aceh akan tercium aroma masakan daging. Apakah daging kerbau atau daging sapi. Bahkan ada anggapan bila tidak masak daging pada saat uroe meugang maka sepertinya terasa belum dikatakan meugang.

Bahkan saat ini di Matang Geulumpang Dua-Peusangan Kabupaten Biruen ada istilah Makmeugang ceit (meugang kecil) sehari sebelum meugang tiba orang-orang sudah meulai membeli dagaing, anak-anak muda ada yang membeli daging untuk disajikan dengan Mie Aceh. Di Aceh Rayeuk (Aceh Besar) umumnya masyarakat membeli daging pada saat meugang puasa lebih banyak sebab bukan hanya disantap saat meugang saja tetapi juga terkadang di awetkan untuk persediaan puasa. Pengawetan itu bisa dilakukan dengan pengeringan sehingga dikenal dengan sie tho (daging kering).

Daging sapi direbus menggunakan bumbu khusus sehingga disebut sebagai sie reuboh (daging rebus) yang rasanya agak-agak asam. Kedua jenis daging ini biasanya digunakan sebagai menu saat sahur pada malam-malam ramadhan. Dan dapat bertahan beberapa hari. Tradisi yang tidak bisa dilupakan Sejatinya bagi kita, tradisi meugang ini tidak hanya bermakna makan-makan dengan menu masakan daging. Tetapi jauh dari itu, bagi orang Aceh tradisi meugang ini menjadi sangat bermakna karena di sana ada nilai silaturahim yang tinggi.

Coba dibayangkan, ketika meugang tiba semua anggota keluarga berkumpul. Bukan hanya keluarga dekat saja tetapi juga keluarga jauh hadir berkumpul. Terkadang demi kebersamaan ada juga yang mengajak anggota keluarga makan-makan di pantai atau di tempat rekreasi lainnya. Selain itu, meungang diisi dengan kenduri menjamu fakir miskin dan anak-anak yatim.

Bagi kita orang Aceh, meugang menjadi tradisi yang tidak akan pernah dan dapat dilupakan. Meskipun orang Aceh berada jauh dari komunitasnya, sedapat mungkin, kendati dalam skala kecil, mereka pasti akan melaksanakan tradisi ini walau di perantauana. Ketika meugang datang, di rumah-rumah orang Aceh pasti akan tercium aroma masakan daging khas Aceh. Terutama gulai merah yang sangat mengugah selera.

Bagi kita di perantauan yang jauh dari kampung halaman,nurani kita tidak membantah bahwa di saat-saat meugang tiba pasti kita diam-diam memendam rindu dendam yang mendalam akan kampung halaman. Karena sebenarnya di sana, pada saat-saat seperti ini tersimpan banyak kenangan yang tidak akan dapat mereka lupakan.

Ada senyum anggota keluarga yang tidak akan pernah hilang. Ada Poma, ayah, adun ngen adoe dan kawan-kawan sejawat hanyut dalam kebersamaan yang ditemani aroma si meugang dari rumah-rumah, tentu bukan daging impor, justru melalui moment meuganglah kitaselamatkan sapi local dan para peternak dari kampung kita,tanpa mempermasalahkan harga, toh kalau kita hitung-hitung amal kita kepada mereka sithon sigoe, kita yang bergaji banyak sungguh keterlaluan meminta kurang kepada mereka yang kalu kita kita kalkulasikan pendepatan mereka tak lebih dari limaratusribu rupiah perhari untuk memelihara sapi. Akhirnya, kita selalu menunggu “pajan lom meugang” agar dapat kembali pulang kampung untuk melunasi komitmen serta ingat-ingat pesan mama “jak baragkahoe jeut, makmeugang woe” Penulis adalah Ureung Gampong Paloh Raya- Mukim Manee, Aceh Utara

Komentar
  1. zulham mengatakan:

    Mantap, lon kop hawa lon woe u gampong meugang puasa baroesa, na tugaih di bna yg lumayan hanjeut ta tinggai, kakeuh hana woe, tpi insyallah meugang uroe raya kana di gampong melepas rindu bersama keluarga, hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s