SEUDATI, RIWAYATMOE KINI

Posted: 03/08/2011 in Riwayat

 

Oleh: Zulfadli Kawom

 

Asal usul

Kata seudatiberasal dari bahasa Arab syahadati atau syahadatain , yang berarti kesaksian atau pengakuan, dalam bahasa aceh dialeknya berubah menjadi seudati. Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa kata seudati berasal dari kata seurasi yang berarti harmonis atau kompak. Seudati mulai dikembangkan sejak agama Islam masuk ke Aceh. Penganjur Islam memanfaatkan tarian ini sebagai media dakwah untuk mengembangkan ajaran agama Islam. Tarian ini cukup berkembang di Aceh Utara, Bireun, Pidie dan Aceh Timur. Tarian ini dibawakan dengan mengisahkan pelbagai macam masalah yang terjadi agar masyarakat tahu bagaimana memecahkan suatu persoalan secara bersama. Pada mulanya tarian seudati diketahui sebagai tarian pesisir yang disebut ratoh atau ratoih, yang artinya menceritakan, diperagakan untuk mengawali permainan peulet manouk (menyabung ayam), atau diperagakan untuk bersuka ria ketika berhasil memenangkan sebuah perang atau pertempuran, dan biasa juga permainan seudati dimainkan oleh prajurit perang aceh disela-sela atau waktu senggang sambil beristirahat di barak.

Dalam ratoh, dapat diceritakan berbagai hal, dari kisah sedih, gembira, nasehat, sampai pada kisah-kisah heroik. Ulama yang mengembangkan agama Islam di Aceh umumnya berasal dari negeri Arab. Karena itu, istilah-istilah yang dipakai dalam seudati umumnya berasal dari bahasa Arab. Diantaranya istilah Syeh yang berarti pemimpin, Saman yang berarti delapan, dan Syair yang berarti nyayian.

Tari Seudati sekarang sudah berkembang ke seluruh daerah Aceh dan digemari oleh masyarakat. Selain dimanfaatkan sebagai media dakwah, Seudati juga menjadi pertunjukan hiburan untuk rakyat.

Pola permainan seudati

Seudati ditarikan oleh delapan orang laki-laki sebagai penari utama, terdiri dari satu orang pemimpin yang disebut syeikh , satu orang apeet syeh (pembantu syeikh) , dua orang apeet (pembantu) di sebelah kiri yang disebut apeetwie, satu orang pembantu di belakang yang disebut apeet bak , dan tiga orang pembantu biasa. Selain itu, ada pula dua orang vocalis sebagai pengiring tari yang disebut aneuk syahi. Ada juag yang menyebut aneuk greek.

Jenis tarian ini tidak menggunakan alat musik, tetapi hanya membawakan beberapa gerakan, seperti tepukan tangan ke dada dan pinggul, hentakan kaki ke tanah dan petikan jari. Gerakan tersebut mengikuti irama dan tempo lagu yang dinyanyikan. Bebarapa gerakan tersebut cukup dinamis dan lincah dengan penuh semangat. Namun, ada beberapa gerakan yang tampak kaku, tetapi sebenarnya memperlihatkan keperkasaan dan kegagahan si penarinya. Selain itu, tepukan tangan ke dada dan perut mengesankan kesombongan sekaligus kesatria.

Busana tarian seudati terdiri dari celana panjang dan kaos oblong lengan panjang yang ketat, keduanya berwarna putih; kain songket yang dililitkan sebatas paha dan pinggang; rencong yang disisipkan di pinggang; tangkulok (ikat kepala) yang berwarna merah yang diikatkan di kepala; dan sapu tangan yang berwarna. Busana seragam ini hanya untuk pemain utamanya, sementara aneuk syahi tidak harus berbusana seragam.

Sesi-sesi dalam pertunjukan seudati terdiri dari Saleum Aneuk Syahi, sesi ini Aneuk Syahi mengawali dengan salam serta penghormatan kepada pembesar-pembesar, panitia dan Syeh dari pihak lawan. Dalam sesi  Saleum Syeh biasanya hanya penghormatan singkat serta pengenalan diri dan kelompok, darimana berasal dan lain-lain. Sesi selanjutnya adalah likok (gaya; tarian), sesi ini tanpa suara vocal, hanya terdengar Keutip Jaroe, tepukan dada dan tepukan tangan  sesi ini juga bagian dari improve atau singkup untuk memasuki sesi saman, biasanya dalam saman dibawakan lagu Sillahi lahe  Selain mempersembahkan tarian atau likok dalam permainan seuadti juga ada bagian Kisah (Story) Pansi, lani dan gambus sebagi penutup

Babak pertama, diawali dengan saleum (salam) perkenalan yang ucapkan oleh aneuk syahi saja, yaitu:

Assalamualaikom bang payong le gom lon.ha la lon ha la lon lon tamong..g..g.gg..lon tamoeng lam seung bintang buluen le lon jak…halajak..halajak..jak mubriee..jak mubri saleum nek buleun le lom keu.halakeu..halakeu.keu..keu jameeeee….keu jamee teuka syedara le lem lom ja..la ja deeh malam nyoe sambinoe lon bi keugata

Syair dasarnya adalah:

Assalamualaikom lon tamong lam seung..jak meubri saleum keu jamee teuka..jadeh malamnyoe lon bi keugata

Fungsi aneuk syahi untuk mengiringi serta mengimabngi dengan tempo setiap gerak dalam rangkaian tari. Selanjutnya Syeh menyapa dengan salam juga yang berbeda

Salam..salam alaikom lon ta…haaa monggg…lam seunggg..jak mubri sahaleum keu kawom..mm..m..linggggg..ka (Secara serentak beramai-ramai)

Syair dasarnya adalah:

Salam alaikom lon tamong lam seung

Jak mubri saleum keu kawom lingka

Syair di atas diulangi oleh kedua apeetwie dan apeet bak. Pada sesi salam dan perkenalan ini, delapan penari hanya melenggokkan tubuhnya dalam gerakan gemulai, peeh dada (tepuk dada) serta keutip (jentikan jari) yang mengikuti gerak irama lagu secara serentak (koor). Gerakan rancak baru terlihat ketika memasuki babak selanjutnya. Bila Seudati Tunang, maka setelah kelompok pertama ini menyelesaikan babak pertama, akan dilanjutkan oleh kelompok kedua dengan teknik yang berbeda pula. Serta salaing kenal mengenal darimana berasala yang diselip dari Saleum Aneuk Syahi dan Saleum Syeh.

Setelah sesi salam dan sapa selesai kelompok pertama akan turun dari pentas. Babak kedua, dimulai dengan bak saman, seluruh penari utama berdiri dengan membuat gloung (lingkaran di tengah-tengah pentas) guna mencocokkan suara dan menentukan likok apa saja yang akan dimainkan. Syeikh berada di tengah-tengah lingkaran tersebut. Bentuk lingkaran ini menyimbolkan bahwa masyarakat Aceh selalu mupakat (bermusyawarah) dalam mengambil segala keputusan. Mupakat itu, jika dikaitkan dengan konteks tarian ini, adalah bermusyawarah untuk menentukan saman atau likok yang akan dimainkan.

Dalam sesi likok dipertunjukkan keseragaman gerak, kelincahan bermain dan ketangkasan yang sesuai dengan lantunan lagu yang dinyanyikan aneuk syahi . Lantunan likok tersebut diawali dengan:

Iiiiii lallah allah ya ilallah…. (dengan beat lambat dan cepat)

Seluruh penari utama akan mengikuti irama lagu yang dinyanyikan dengan beat cepat atau lambat tergantung dari tempo lantunan yang dibawakan oleh aneuk syahi. Sasi selanjutanya adalah saman . Dalam sesi ini beragam syair dan pantun saling disampaikan dan terdengar bersahutan antara aneuk syahi dan syeikh yang diikuti oleh semua penari. Jika syeikh mengucapkan:

walahuet ka sineut apet ee kataheeee….hai syam.

Anek Syahi akan menjawab:

lom kameuhijoe-hijoe naleung samboe leubehh lom hijo naleung beulanda.

Dalam seudati juga ada unsur humor atau lawak dalam istilah seudati disebut lanie untuk penutup sesi, sambil memperbaiki formasi yang sebelumnya sudah tidak beraturan.setelah itu dilanjutakan dengan Kisah, dalam sesi ini seluruh pemain mengambil posisi rest (istirahat sejenak) sementara Aneuk syahi melantunkan Syair yang megisahkan kehidupan masyarakat, sejarah aceh dan perkembangan suatu negri, dapat kita simak melalui syair berikut ini:

Aceh Utara cahya gemilang

Aron Blang Lancang teudong LNG

Pabrek Pupuk PIM ngen Asean

Bak Bineeh Jalan teudoeng meubanja

 

 

Terjemahannya kira-kira seperti ini:

Aceh utara sangat gemilang

PT Arun di Blang lancing dibangun LNG

Pabrik Pupuk PIM dan Asean

Di Pinggiran Jalan berdiri berjejer

Dalam Syae panyang atau Kisah sesekali Aneuk syahi juga selain memuji kemegahan dalam pembangunan juga mengkritik pabrik yang tidak memperhatikan masyarakat sekitar seperti dalam Syair berikut ini:

Tapi sayang siribee sayang

Ureng Blang lancing ka taheu mata

 

Artinya:

Sungguh Sayang seribu kali sayang

orang blang lancing hanya jadi penonton saja

Juga dalam setiap permainanan seudati juga dibumbui dengan Gambus, biasanya lagu-lagu bernafaskan islam, bisa lagu melayu atau arab, tidak meski lagu Aceh

 

Perkembangan Tari Seudati

Tidak diketahui secara pasti tahun berapa perkembangan dimulai. Di Pidie Tari Seudati pada mulanya tumbuh di desa Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, yang dipimpin oleh Syeh Tam. Kemudian berkembang ke desa Didoh, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie yang dipimpin oleh Syeh Ali Didoh, namun yang sangat terkenal adalh Syeh lah Bangguna (alm) dari Meureudu sekarang Kabupaten Pidie Jaya, Di Bireun tari seudati muncul di daerah pesisir seperti Lancok dan Kuala Raja, di daerah tanah kelahiran Syehlah Geunta ini di Medio tahun 80-an sampai 90-an sangat serinag di adakan Seudati Tunang baik di Pasar atau ditempat-tempat terbuka lain. Di Aceh utara pada tahun 80-an kita sangat mengenal Syeh Nek Rasyid dari Blang Lancang sekarang masuk Pemko lhokseumawe, di Krueng Mane ada Syeh Kop (M.Yacob) dari gampong Paloh Raya (Almarhum), Syeh Lah Baroena (Alm), Syeh Hasmuni  dan lain-lain yang tidak mungkin disebutkan satu persatu karena jenis tarian ini sangat digemari di daerah pesisir Krueng Mane, di Krueng Geukuh masyarakat sangat menganal Syeh Manyak, bahkan rap han pree wate (Setiap waktu) kecuali bulan mauled dan Ramadhan yang sangat sepi Event tarian ini pada tahun 80-an dan 90-an. Begitu juga di daerah lain di aceh utara bahagian tengah dan timur seperti Geudong, Alue Ie Puteeh dan Panton Labu tarian ini sangat di gemari dan setia Mukim dan Gampong ada Group dan Syehnya tersendiri yang dibiayai sendiri oleh masyarakatnya.Di Aceh Timur ada Syeh Din Misee Teumaga dari Idi, di Langsa ada Syeh Yoldi Prima yang juga Penyanyi Aceh yang sempat menelurkan beberapa Album Aceh.

Pada masa konflik seudati sangat jarang dipertunjukan di muka umum atau lapangan terbuka, selain alasan keamanan juga sangat susah mendaptkan izin untuk mengadakan pertunjukan apalagi pada malam hari, kecuali di event-event di luar aceh baik yang diadakan perkumpulam masyarakat aceh maupun yang diadakan oleh mahasiswa diluar aceh, namun tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus berlatih dikampung-kampung tetapi dilaukan pada siang hari secara tertutup. Bisa dikatakan hampir tak ada event kecuali 17 Agustus yang diakan di Ibu Kota Kecamatan, itupun diprakarsai oleh Muspika. Pada masa ini juga bisa kita katakan masa-masa suram untuk perkembangan seudati di Negeri sendiri. Setelah perdamaian, praktis hampir tak ada pembinaan dari pemerintah terhadap group-group seudati yang tumbuh digampong-gampong (Kampung), mereka hanya menunggu event besar Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) setiap lima tahun sekali, itupun sangat tergantung siapa yang berkuasa dan ketersediaan dana dari pemerintah. Dalam kurikulum sekolah-sekolah dan Kampus, tarian heroic ini juga belum menjadi bagian penting yang belum terpikirkan apalagi tingkat implementing. Nah, kalau ini dibiarkan, kita siap saja kita mengusung Jenazah Seuadati dan jangan pernah salahkan anak Negri.seperti dalm panton aceh ”Kon salah cangguk jiduk lam kubang,,kon salah rangkang bubong katireeh..kon salah aneuk naggroe han jitung tarian.. salah salah awak mat pemerintahan akay jih paleeh”, Semoga.

Penulis, Saat ini bermukim di Gampong Paloh Raya Mukim Mane Aceh Utara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s