Profile Organisasi (Organization Profile)

Posted: 23/11/2011 in Uncategorized

Profil Lembaga Balai Sastra Samudra Pasai

Nama : Balai Sastra Samudra Pasai
Singkatan : BSSP
Berdiri : ..November 2011 Masehi / 13 Ramadhan —1428 Hijriyah
Motto Perjuangan: Dunia Pasai Dunia Sastra
Alamat : Jalan Darussalan Gang Veteran Kampung Jawa-Kota Lhokseumawe
Telp/Hp : 085260079831 (Zoel Kawom), 0811672648 (Ayi Jufridar),085296503400 (Dimas), 085275465776(ArafatNur),(085277596308 (Mahdi Idris)
Website/blog : https://sastrawansamudrapasai.wordpress.com/
Email : samudrapasai232@gmail.com

A.Latar Belakang

Aceh adalah sebuah etnic yang unik yang terdiri dari multikultur suku dan bahasa serta budaya peninggalan Kerajaan Samudra Pasai dan ditutup oleh Kerajaan Aceh Darussalam.

Pada akhir abad 13 tercatat bahwa kerajaan Samudera pasai yang didirikan oleh Meurah Silo yang kemudian bergelar Sultan Malikussaleh. Keberadaan sultan ini di buktikan setelah dia mangkat. Batu nisan di atas makamnya diBlang Me, Geudong, Aceh Utara, yang masih ada di sana sampai saat ini, menyebut bahwa dia mangkat pada tahun 697 Hijriah, bertepatan 1297 Masehi.Kerajaan Samudera berkembang di masa Sultan Malikus-Saleh memerintah. Sumber cerita dari rombongan asal Italia berlayar melewati pantai Sumatera setelah mengunjungi Tiongkok (Cina). Dalam rombongan itu terdapat pemuda bernama Marco Polo. Setiba di Italia dia menceritakan pengalamannya singgah dinegeri Ferlece (Perlak). Disitu dia melihat para pendatang Muslim, yang disebutnya Saraceen (orang Arab).

Sultan Ali Mughayat Syah Seorang raja Aceh yang lebih lihai dan beruntung dari raja-raja sebelumnya, berhasil memproklamirkan Kerajaan Aceh Darussalam pada hari Kamis, 21 Dzulqaidah 916 H atau 20 Februari 1511 ( menurut salah satu sumber sang sulthan sudah berkuasa mulai tahun 1496 ) dan Aceh menjadi salah satu dari etnic yang kuat dikawasannya yang merupakan salah satu dari lima kerajaan Islam terbesar di dunia pada masa itu dan Aceh mencapai puncak kejayaan yang gilang gemilang di jaman keemasan Sulthan Iskandar Muda. Sejarah Kerajaan Aceh Darussalm terukir selama 407 tahun dibumi Ilahi yang berakhir dimasa Sulthan Muhammad Daud Syah pada tahun 1903.

KEDATANGAN Islam di Aceh sekitar 13 abad lalu (diperkirakan abad ke-7), telah mempengaruhi aspek kehidupan masyarakat Aceh, baik budaya maupun tatanan sosial lainnya. Tak pelak, para dai yang saat itu terdiri dari pedagang-pedagang Arab Islam, yang singgah di sejumlah pelabuhan kerap bertukar barang niaga, seperti sutra dengan rempah-rempah hasil bumi. Banyak di antara mereka yang berbaur dengan kaum pribumi, berkawin dan menetap, menyebarkan ajaran Islam melalui dakwah yang menbawa pengaruh terhadap tatanan kehidupan di sini. Salah satu dampak pengaruh itu adalah bidang kesusastraan, yang sudah sejak awal penduduk kampung menguasai tulisan atau aksara arab jawoe lewat berbagai Hikyat yang kemudian warisan menulis menjadi karena peperangan yang panjang. Masuknya Islam ke Aceh, tulisan bercorak kesusastraan berkembang pesat dan penting. Menurut DR. Ismail Hamid, ahli bahasa dan sastra Indonesia berkebangsaan Malaysia, para mubaligh dan dai yang menyebarkan Islam memperkenalkan aksara-aksara Arab.

Dari sinilah mulai timbul penulisan karya sastra yang bernuansa Islam, yang secara jamak mengajak orang-orang untuk berbuat amal kebaikan. Pada waktu itulah karya sastra jenis prosa dikenal sebagai hikayat. Kata hikayat itu diambil dari bahasa Arab, yang bermakna cerita. Sastra ini ditulis dalam bentuk Arab-Melayu berbahasa Melyau Pasai dan Aceh, jua menggunakan bahasa Melayu yang jamak dipakai untuk penulisan bidang ilmu pengetahuan, seperti fiqh, tasawuf, dan tauhid.

Pada kurun waktu berikutnya, atas dukungan dan peran serta pihak kerajaan Islam di sejumlah daerah wilayah Aceh—salah satunyanya kerajaan Samudra Pasai yang merupakan pusat kebudayaan Islam pertama pada masa itu—kesusastraan jenis hikayat ini terus berkembang, lebih-lebih kerajaan Samudra Pasai merupakan pintu gerbang masuk dan berkembangnya Islam.

Hikayat Aceh, pengaruhnya dari saj’—syahi (bahasa Aceh) atau syair—salah satu jenis prosa Arab yang berusaha mendaya-gunakan potensi morfologis, kombinasi bahasa guna menghasilkan pola-pola rima berirama, perihal ini tampak pada bentuk lirik dan persamaan bunyinya. Sehingga hikayat sangat jauh perbedaannya dengan riwayat dalam sastra Arab yang secara harfiah berarti narasi (bercerita). Istilah narasi, sekarang, biasa digunakan secara luas oleh kritikus sastra Arab untuk menyebut novel.

Bila membaca sejarah Samudra Pasai dan Aceh disepanjang abadnya, kita akan menemukan banyak penulis-penulis Aceh yang lahir pada zamannya, fenomena ini membuktikan hidupnya karya sastra dikalangan pengguna bahasa bersangkutan, sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah, suka duka dan cita-cita mereka. Masa Kerajaan kita menganal Hamzah Fansuri dan sayamsyudin Assumatrani lewat karya-karya yang masih tersisa setalah terjadi pembununhan dan pembakaran karya/naskah mereka di Mesjid Raya Baiturrahman atas seizing Iskandar Tansi.dimasa Orde Baru kita menganal sastrawan Aceh dikenal dengan Muhammad Ali Hasjim (lahir 28 Maret 1914), dengan nama populernya Ali Hasjmy. Beliau mulai menulis sekitar zaman Poedjangga Baroe. Julukan yang diberikan kepadanya adalah “Buku Sejarah Berjalan”, terjelma dalam penunaian tugasnya sebagai ulama, pejuang revolusi, Gubernur dan Rektor perguruan tinggi. Dalam hal ini, tidak ada padanan Ali Hasjmy dijajaran penyair Indonesia.

Pengaruh Hikayat Dalam Masyarakat Aceh, budaya menulis, sejalan dengan perkembangan pengajaran dan pemikiran keagamaan telah tercatat lama di bekas Kerajaan Samudra Pasai dan Aceh. Dalam sejarah, terdapat sejumlah cendekiawan yang mengarang atas penugasan Sultan, karena perhatiannya yang istimewa terhadap penulisan buku terutama mengenai masalah keagamaan dan juga memberikan kesempatan pada karya kreatif terutama puisi. Alam Aceh seluruhnya puisi, hal itu pernah dikemukakan oleh wartawan Mesir Al-Hilal, karena orang Aceh dalam berbagai peristiwa penting berbicara dalam bahasa puisi berbentuk hikayat, sehingga dapat disebut bahwa sastra Aceh adalah karya sastra ciptaan pengarang atau penyair yang berhubungan langsung dengan situasi dan kondisi masyarakat sehari-hari.

Melalui hikayat kita dapat mengetahui aspek-aspek kehidupan manusia, yaitu berbagai permasalahan yang timbul antara manusia dengan Penciptanya (vertikal), antara manusia dengan lingkungan dan alam semesta (horizontal).
Hikayat adalah salah satu jenis sastra Melayu Pasai yang sangat terkenal. bahkan hikayat merupakan puncak dari keindahan dan keagungannya. Menurut Dr. Hoesein Djajadiningrat, hikayat mempunyai dua makna, yaitu cerita sejarah dan sebuah bentuk dari kesusasteraan Melayu Aceh. Hikayat yang merupakan cerita sejarah, berbentuk ‘prosa’ dan ditulis dalam bahasa Melayu Pasai yang dalam perjalanan sejarah kemudian terkenal dengan bahasa Melayu Riau atautulesan Jawou (tulisan Jawi).

Kebanyakan karya-karya tersebut yang merupakan khazanah perpustakaan Aceh, telah musnah dalam masa peperangan selama puluhan tahun antara kerajaan Aceh Darussalam dengan kolonialis Belanda. Yang tersisa dari keganasan perang tersebut, banyak pula telah diangkut ke negeri Belanda.

Karya sastra lama Samudra Pasai dan Aceh sebelum pemerintahan kolonial Belanda berkuasa di Aceh sampai pada tahun 1924, belum pernah ditulis dalam bentuk prosa (haba), akan tetapi selalu ditulis dalam bentuk puisi (narit mupakhok) yaitu kata atau ucapan bersanjak seperti pantun, nasib, kisah, dan hikayat, sedangkan karya sastra keagamaan yang berbentuk puisi disebut rukon “nalam”(nazam). Kalau melihat kepada kandungan isinya, secara garis besar hikayat dapat dibagi kepada: hikayat agama, sejarah, safari, peristiwa, jihad, dan cerita fiktif (novel). Adapun yang menjadi ciri khas hikayat-hikayat Aceh, antara lain: dimulai dengan Basmallah, kemudian tokoh-tokoh utama yang bermain dalam hikayat adalah manusia yang taat kepada Allah, berakhlak mulia, berwatak pahlawan, berhati budiman dan berpendidikan agama yang sempurna, selain menguasai berbagai kitab agama, mereka juga menguasai ilmu hikmat, ilmu mantera dan ilmu politik.

Syair-syair karya sastrawan perang dimasa Nabi seperti karya Hasan bin Tsabit, Ka’ab bin Malik dan Abdullah Rawahah telah mempengaruhi sejumlah ulama sastrawan Melayu Pasai dan Aceh, sehingga muncullah kesusasteraan epos (hikayat jihad) yang telah menggemparkan dunia penjajah seperti Hikayat Prang Peuringgi, suatu karya sastra perang yang bertujuan membangkitkan semangat jihad rakyat Aceh untuk melawan Portugis. Kedua, Hikayat Prang Kompeuni, buah karya seorang ulama pahlawan yang bernama Abdul Karim, yang lebih dikenal dengan sebutan Do Karim. Di sini beliau berhasil melukiskan Perang Aceh yang heroik pada abad XIX. Dan Hikayat Prang Sabi karya penyair Teungku Chik Pantee Kulu, dalam membakar semangat perang sabil Rakyat Aceh bertempur melawan kolonialis Belanda, yang menurut penilaian para ahli sejarah Hikayat Prang Sabi ini kalau tidak melebihi, sekurang-kurangnya menyamai Ilias dan Odyssea, karya sastra epos yang diciptakan pujangga Homerus dizaman “Epis Era” Yunani sekitar tahun 900-700 SM.

Sekarang jelaslah, bahwa ajaran Islam telah menjadi darah daging bagi rakyat Aceh dan mempengaruhi segala segi kehidupan dan penghidupannya, dengan kata lain, kesusasteraan Melayu Pasai dan Aceh pada hakikatnya adalah kesusasteraan Islam, atau setidak-tidaknya kesusasteraan yang berjiwa dan bersemangat Islam. Secara tradisional, masyarakat Aceh sangat menggemari hikayat yang selalu diciptakan dalam bentuk puisi. Reputasi seorang penyair dalam masyarakat ialah pada kemampuannya menyampaikan hikayat secara lisan dengan kemerduan suara dan kelihaian mengolah irama. Para ulama yang menjadi panutan masyarakat, menyadari keadaan tersebut dan mengarahkan untuk kepentingan dakwah, baik untuk menanamknn ajaran agama secara sederhana kepada anak-anak maupun untuk lingkungan yang lebih luas.

Para ibu di rumah sering memetik lagu ratib tersebut sebagai lagu nina bobo. Secara tidak langsung, ikatan puisi yang dinyanyikan oleh ibu ini melekat ke dalam ingatan si anak, dan menjadikan ia akrab dengan bentuk-bentuk puisi yang ada dalam tradisi sastra Aceh.

Kini adakah syair-syair demikian yang mampu membentuk sikap dan pola pikir jernih dan kritis? Syair-syair yang kerap disebut sebagai sastra kontekstual yang berbicara atas nama zamannya dan kondisi masyarakat sambil tak lupa membawa misi religius dan turut membentuk kepribadian generasi baru, bukan syair-syair melankolis yang mengeksplotisir kecengengan dan romantisme individual.

Bentuk hikayat sangat terikat dengan aturan-aturan, yakni padanan kata yang menghasilkan pola berima, bias makna jua keindahan. Sedangkan riwayat berbentuk karangan bebas, seperti lazimnya bentuk prosa kesusastraan Indonesia modern. Hikayat pada kurun waktu kesustaraan Indonesia modern jua tidak mengalami perubahan. Namun, hikayat-hikayat Aceh pada masa ini ditulis dengan aksara latin, di samping tulisan Arab-Melayu yang masih dipertahankan beberapa penulis tua.

Di masa tahun 1980-an, hikayat Aceh mengalami masa puncak kejayaannya dengan kehadiran beberapa penulis, di antaranya yang paling terkemuka di khalayak masyarakat adalah almarhum Syeikh Rih Krueng Raya, yang menulis beberapa hikayat, salah satunya yang muncul ditahun 1990-an ialah Seulala Mata (Silauan Cahaya Mata) dan Madya Hus pada tahun 90-an lewat Hikayat Aneuk Jampok .

Hikayat yang umumnya penuh satiran tajam terhadap pemerintah masa itu, mulai langka, dan hanya dijual (biasanya langsung oleh penulisnya sendiri) di lapak kaki lima pada hari-hari pekan pasar beberapa daerah di Aceh. Perkembangan hikayat selanjutnya terus mundur, seiring menurunnya minat, dan terpuruknya kehidupan para penulis yang tak sanggup memenuhi biaya hidup keluarga dari hasil menjual buku hikayat.

Selain itu, tak ada peran pemerintah, yang memang pemimpin-pemimpin yang buta itu tiada punya hasrat untuk memerhatikan kesusastraan Aceh, juga budaya-budaya tulis lainnya, lantaran pemerintah menganggap itu semua tiada penting, sehingga makin membuat generasi Aceh bodoh dan buta terhadap sastra, yang kelak tahulah orang sekalian bahwa Aceh kaum yang bebal, tidak serupa generasi terdahulu yang pandai dan cakap menguasai sastra. Ihwal ini tidak berarti kretifitas sastra berhenti, bahkan kemudian geliat sastra di Aceh mengalami masa peralihan dari hikayat ke novel, dengan kehadiran beberapa penulis yang merasa dirinya punya tanggung-jawab terhadap kelangsungan sastra yang tidak mendapat dukungan pemerintah. Baik mereka yang terorganisir dari dalam organisasi kepenulisan, atau dari Fakultas Sastra, maupun mereka yang mempunyai minat menulis untuk mengarang novel. Yang rata-rata mengangkat tema tentang penderitaan masa konflik dalam rentang waktu 1998-2005.

Selepas tsunami dan perdamaian di Aceh, telah merambah jalan kecerlangan sastra, menemukan titik terang dalam kegelapannya. Wadah-wadah penulis sastra semakin naik daun, banyak mendapat sokongan asing dan lembaga non pemerintah di dalam negeri. Bahkan ada beberapa forum, organisasi, dan sekolah menulis sastra seperti Dokarim dan lain-lain menemukan gairah kembali, dengan munculnya beberapa penerbit buku yang siap menerima karya mereka. Begitu juga setelah Tsunami dan perdamiaan muncul beberpa Penulis atau sastrwan seperti Ayi Jufridar dengan Novel Putroe Neng, Arafat Nur dengan Lampukinya yang mendapat berbagai penghargaan Nasional serta Thayeb Loh Angen dengan Novel Teuntra Atom.

Dari serangkaian awal perkembangan sastra di Arab, yang memiliki kemiripan dengan perkembangan sastra di Aceh; dari hikayat sampai novel, juga tidak menutup kemungkinan segala perbedaannya. Yakni, novelis Arab memadukan antara gaya klasik dan modern sehingga menimbulkan sensasi baru, yang jauh menarik dari novel-novel Eropa dan Amerika.

Namun,lagi-lagi pemerintah sebagai pengemban amanah rakyat masih kurang peduli terhadap perkembangan sastra, banyak sasatrawan yang tidak diperhatikan, anggaran melimpah,namun tidak berpihak kepada pengembgan karya sastra Aceh.

Berangkat dari kondisi diaatas beberapa sasatrwan dari Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe tergerak hatinya pada penghujung tahun 2011 memberanikan diri mendeklarasikan Lembaga Balai Sastra Samudra Pasai diantaranya:Ayi Jufridar, Arafat Nur, Mahdi Idris, Masriadi Sambo dan Zulfadli Kawom pada tahun 2011 di Lhokseumawe dengan tekad mengembangkan dan memajukan karya sasatra aceh dimasa mendatang.

B.Visi

Mengembangkan Keilmuan Bahasa Sastra Pasai, Aceh, Melayu dan Indonesia melalui kegiatan Kajian, Pelatihan kepenulisan, diskusi, workshop dan seminar untuk melahirkan sastrawan berkualitas yang memiliki kemampuan kompetitif dan profesioanal sertm menciptakan kreasi sastra bernilai tinggi bagi segenap insan berseni

C.Misi
1. Mencari, mendokumentasi dan mengkaji serta mengembangkan Bahasa dan Sastra Melayu Pasai warisan Kerajaan Samudra Pasai dan Kerajaan Aceh
2. Mengembangkan sastra klasik dan modern
3. Meningkatkan kualitas Penulis/Sastrawan Samudra Pasai
4. Menghargai Karya Sastra Samudra Pasai, Aceh,Melayu dan Indonesia serta inggris dan lainnya.
5. Meningkatkan pengelolaan kualitas pengelolaan lembaga dan kinerja
6. Menjalin Kerjasama dengan Lembaga lain

D. Maksud dan Tujuan
1. Menghasilkan lulusan/sastrawan yang berkualitas
2. Meningkatkan kinerja dan kelembagaan yang professional
3. Memupuk dan menjalin jaringan kerjasama

E. Kurikulum
Pemanfaatan potensi dan sastra: Hikayat, Pantun, Syair, Puisi, Cerita Pendek, Novel, Jurnalistik,Sinematografi,penulisan kreatif dan editing (atau di diskusi ulang)
F. Struktur Organisasi
Ketua :
Sekretaris :
Bendahara :
Bidang-bidang:
Anggota:
1.
2…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s